Monday, 16 October 2023

6 Oct 2023

بسم الله الرحمن الرحيم
kesempatan terbesar adalah bagaimana bisa terus berjalan
berjalan tanpa melihat kebelakang
tapi kenyataan telah merubuhkan dinding yang tegak berdiri
kembali harus merunut ke belakang
mencari makna dibalik selimut kehidupan
dingin
dimana
diri
rasa ingin berlari
menyatukan jiwa & raga seraya bertanya
apakah ini benar adanya
terjerumus dalam jurang yang begitu dalam
tanpa tau kearah mana harus berjalan
berjalan kembali
Sang Pencipta kembali memanggil
dalam dekapan malam
beralaskan hawa sejuk
dan tetesan air yang tak mampu dibendung
disini, tersentak
sedekat it al busyro hadir
sedekat it pula menunggu jawaban kembali
belum selesai perjalanan berjibaku ini
tempat bernaung menjadi dingin
sunyi, sepi, seakan tak ada kehidupan
padahal ada insan didalamnya..
bersyukur tanpa batas
ada jiwa yang
merangkul dalam diam
mengasah dalam doa
mendaki melalui ketajaman nasihat

7 Oct 2023

بسم الله الرحمن الرحيم
dulu ketika aku melihat orang waras yg kehilangan akal namun selalu dijalanan, aku selalu bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan mereka?
apa yang mereka rasakan?
mengapa mereka bisa ada diposisi seperti ini?
bagaimana keluarga & rekan mereka?
lalu sekarang, aku bersyukur Allāh berikan jawaban, tanpa aku harus berada dijalanan
aku merasakan apa yang mereka rasakan
jiwa kita masih hidup
hanya akal yang kehilangan arah
jasad kita masih hidup
tapi nafs yg mengontrol arah diri
mereka pasti lelah
tapi semua sudah tanpa rasa
mereka pasti sedih
tapi air mata pun takkan berbalas
mereka pasti butuh kasih sayang
tapi cemoohan & kata-kata tak pantas yg mereka dapatkan
akal telah hilang
tak dapat lagi menentukan arah harus melangkah
diambil alih oleh shaitan yg tertawa dalam fana
jahat
padahal mereka normal
berjalan, hingga jauh
sehat raga membawa barang & diri
makan & minum
bahkan
mereka bisa membaca Qur'an, shalat
mengingat Tuhannya
mengendalikan
menguasai kembali
menyadarkan diri
butuh Allāh lebih sering dalam setiap detik
karena dlm beberapa detik lengah
akan segera terombang-ambing

7 Oct 2016

bismillaah..
terkadang kita lupa untuk menganalisa, apakah ini halal atau haram. baik itu mengenai makanan, harta, perilaku, muamalah, dsb.
namun disaat ada seseorang yang memperingatkan bahwa hukum begini adalah haram. maka pasti akan ada banyak yang menentang. padahal sejatinya yang menetapkan hukum itu adalah Allāh, bukan manusia. manusia hanya menyampaikan dan mengikuti apa yang telah Penciptanya peringatkan.
seperti kita hidup sekarang ini. apa tujuannya Allāh menciptakan kita saat ini? apakah hanya untuk agar kita bisa hidup bebas semau kita?
ibaratnya seperti, apa tujuannya keluarga kita mendidik kita sedemikian rupa? apakah hanya untuk agar kita bisa menjalani kehidupan saja dari kecil hingga kita besar nanti?
-----
setiap ada penciptaan, pasti ada tujuan. setiap ada aturan, pasti ada ketaatan. setiap ada sebab, pasti ada hikmah.
jika kita hidup hingga sekarang, berarti Sang Pencipta kita menginginkan agar kita hidup memiliki tujuan. apa tujuan itu? yaitu Jannah. dengan tujuan Jannah, sudah pasti kita akan terus beribadah kepada Allāh. menyembah Allāh semata.
jika kita hidup dan memiliki tujuan, pasti ada aturan yang harus kita taati untuk mencapai hasil yang maksimal. darimana peraturan itu? dari Allāh yang ada pada Al Qur'an dan As Sunnah.
jika kita hidup, jelas tujuannya yaitu Jannah. menaati peraturan yang telah ditetapkan, selalu menggigit kuat Al Qur'an dan As Sunnah dengan mempelajarinya. yakin! semua ini pasti akan ada hikmah yang sangat besar dan reward bagi kita yang sanggup menjalaninya, hingga titik garis finish.
karena "janji Allāh itu pasti bagi mereka yang percaya/yaqin dan tak tertipu oleh dunia".
Wallahua'lam

8 Oct 2021

“The heart, in its journey towards Allāh, is like a bird.
Mahabbah (Love) of Allāh is its head; Khawf (Fear) and Rajaa (Hope) are its two wings.
If both the head and wings are sound, the bird will be able to fly properly.
However, if the head is cut off, the bird dies; and when the bird loses its wings then it is susceptible to every hunter or predator.
Some of the Salaf recommended a healthy person to give precedence to Fear over Hope, and when leaving this Dunya (i.e. during illness) a person should give precedence to Hope over Fear. This was the way of Abu Sulaymān.
Alternatively, others said: It is befitting for the heart to lean towards Fear; if it favours Hope it will corrupt.
Others said: the most perfect state is a balance of Hope and Fear, with a heavy reliance upon Love.
Love is the transport; Hope is the guide and Fear is the driver.
And Allāh takes a person [to the destination] through His kindness and generosity.”
- Ibn Qayyim (Rahimahullāh)

15 Oct 2021

بسم الله
suatu saat kita akan menyadari bahwa masa lalu membawa pelajaran hingga saat ini. juga membawa dampak pada diri dimasa kini.
daripada seakan menyalahkan keadaan, kita lebih perlu menyadari bahwa masa lalu telah berakhir, walaupun berlari dari trauma adalah kesalahan, namun berhenti sejenak adalah hal yang tepat. Lalu berjalan bersama trauma dalam healing yang diri sendiri tentukan.
yang mengerti diri kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. jangan beri celah untuk orang lain masuk dan menghancurkan lebih dalam, tapi terus berusaha bahwa perubahan akan selalu menjadi lebih baik, dan hikmah menunggu untuk diraih.
sabr sabr sabr dan terima. semoga perjalanan tanpa akhir ini dapat melekatkan pikiran dan hati dalam satu tujuan yang sama.. genggam tanganku dan percayalah kita bisa melaluinya..

Dua Rahasia

Salah satu sebab sulitnya proses kesembuhan adalah ketika peruqyah mulai tertarik hingga jatuh cinta kepada pasiennya..

Saat jiwanya terguncang, bahkan hingga “terjatuh” tadi, maka pada kondisi itu panah-panah beracun dari syaitan mulai menikam dan venomnya mulai menjalar dan meracuni fikiran sang peruqyah.

Niat yang awalnya suci dan terjaga mulai keruh, rusuh dan lusuh diselimuti hawa nafsu. Hilangnya cahaya diruang kontrol utama hati manusia menjadi sebab utama datangnya kegelapan. Dan penghianatanpun dimulai!

Syaitan memperindah gejolak busuk itu seharum dan indahnya rekahan mawar, lalu semua tipu daya dan kepalsuan dimulai. Syaitan dan hawa nafsu bersekongkol, dan waktu pun bergulir tak pandang bulu.

Racun yang liar ini akan menyatu, menjadi racikan mematikan ketika mereka bertemu dengan warna yang serupa. Lalu kedua rasa itu bertemu dalam ikatan haram bernama cinta, ukhuwwah bahkan atas nama dakwah.

Ketika pasien jatuh cinta kepada sang peruqyah atau sebaliknya, maka batal dan hilanglah semua keberkahan al Qur’an yang mengalir pada udara dan nuansa. Hembusan nafas telah bercampur kemaksiatan terselubung.

Ketika keburukan sudah mulai ditanam dan terjaga, maka pohon ini akan tumbuh liar dan bertahan. Hingga bulan bertemu tahun, lalu keduanya mulai bertanya kemanakah kesembuhan yang dulu menjadi dambaan?

Penghianatan rasa adalah hal yang mengotori do’a, melemahkan bahkan hingga menghilangkan keberkahannya samasekali. Membuat hubungan antara hamba yang lemah dengan sumber kekuatan utama terputus.

Hawa nafsu adalah penanggungjawabnya, kadang berbentuk hubungan haram bernama cinta. Kadang berupa ghibah, fitnah hingga namimah.

Tidak sedikit mereka yang telah ditolong dengan setulus hati menjadi musuh dikemudian hari. Ada api yang menyala tanpa ia sadari membakar dirinya dan menutup jalan-jalan kesembuhannya.

Diantaranya ada yang diam-diam mencintai pahlawan yang mengangkat hidupnya dari lembah kesedihan ataupun prajurit yang terlibat persengketaan rasa. Hingga pucuk senjatanya berubah jadi bunga mawar..

Jika pasien, mencintai peruqyah. Atau peruqyah mencintai pasiennya. Maka hentikan proses ruqyah dan perbanyak amal shalih untuk mengalahkan rasa itu dan mintalah ampun dan pertolongan kepada Allah, untuk melawan rasa. Atau katakanlah, aku menyerah.

Rekomendasikan ia kepada peruqyah lain yang lebih amanah. Perintahkan ia berhijab dan selamat kan diri, mintalah perlindungan kepada Allah. Karena, demi Allah, sebagaimana firman-Nya godaan hawa nafsu itu dahsyat sementara godaan syaitan itu lemah.

Ini adalah dua rahasia, kenapa ada pasien-pasien istimewa yang tak kunjung sembuh setelah semua cara ditempuh. Ada persengketaan rasa yang rahasia, ada ikatan haram yang selamanya menjerat keduanya.

Nuruddin al Indunissy
Hongkong 21 July 2019

Thursday, 28 September 2023

Bagaimana Menyikapi Serangan Balik? Unai

Kajian 5 | Bagaimana Menyikapi Serangan Balik?
Bismillah asholatu wassalamu 'ala Rosulillah, wa'ala alihi wa shohbihi ajma'in wa man tabi'ahum bi ihsani ila yaumiddin. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang maha luas dan kekal kasih sayangnya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah limpah kepada Rasulullah beserta orang tercinta didekatnya, keluarga, keturunan dan seluruh pengikutnya hingga Akhir jaman. Selamat menunaikan ibadah shaum di romadhan hari yang pertama ini, untuk segenap keluarga besar RehabHati Indonesia dan seluruh mukminin-mukminat yang berbahagia.
Pertanyaan dari Akh Ali Abu Hafshoh [Owner dan Trainer Rehab Hati Payakumbuh]: Bagaimana membentengi keluarga kita dari Syaitan?
Ini adalah pertanyaan yang wajib ada disetiap pelatihan ruqyah di seantero nusantara. Bisikan syaitan pertama kali bagi mereka yang sudah mulai bertekad untuk menjadi mujahid tauhid dalam memerangi syaitan terkutuk yang menjajah kebanyakan muslimin dimanapun berada.
Serangan balik diistilahkan sebagai respon atas sebuah serangan pertama yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap individu atau kelompok,
atau tindakan balas kepada pihak yang pertama kali menyerang.
Serangan balik juga diibaratkan ‘serangan pertama’ kali dalam sebuah pertempuran, dimana musuh menyerang balik benteng pertahanan kita disebabkan oleh serangan kita yang terdahulu.
Jadi tidak bisa dikatakan serangan balik kalau kondisi musuh sudah ada dalam benteng kita bertahun-tahun. Karena yang ada adalah justru kitalah yang menyerang mereka balik.
Artinya dalam dunia ruqyah tidak ada istilah serangan balik karena kita sudah ada dalam kancah pertempuran sejak lama.
Hanya saja manusia tidak menyadarinya, sehingga ketika ia mendapat serangan dan Allah memperlihatkannya seakan itu adalah serangan balik dari musuh.
Padahal musuh sudah sejak lama memerangi kita.
Jadi yang harus dilakukan adalah ‘hanya’ berupaya memperkuat benteng pertahanan kita sendiri.
Atau kita definisikan sebagai benteng ghoib, seperti kita ketahui bahwa benteng ghaib ini tercipta dari ritual sunnah yang dilakukan setelah menunaikan kewajiban sebagai bukti ketaatan yang berlandaskan akidah yang murni diatas tegapnya jiwa yang bertauhid.
Sederhana saja, kalau biasanya kita mendhowamkan ritual sunnah sebagai ibadah maka kita ubah ia menjadi senjata pertahanan [do’a perlindungan] sekaligus ibadah.
Dan lalu mengajarkannya kepada anak dan istri. Seperti dilakukan Rasulullah sholallahu alaiyhi wa sallam terhadap dua cucunya hasan dan husain dengan kalimah “U’idzukuma bikalimatillahit tammah min kulli sayyitoni wa hammah wa min kulli ‘aini lammah”.
Aku lindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat perlindungan dari Allah yang sempurna dari segala gangguan syaitan dan bisa binatang dan tatapan mata yang dengki…
Jadi jika Rasul sholallahu alaiyhi wa sallam saja yg sudah dijamin Allah subhannahu wa ta’ala mendo’akan keluarganya, apalagi kita yang tidak ada jaminan sedikitpun.
Intinya pelajaran agar kita juga memperhatikan amalan dan akidah keluarga.
Adapun jika salah satu keluarga kita diambil syaitan, maka ketahuilah ya Ikhwah bahwa itu adalah ujian!!!
Sebuah ujian bagi keteguhan jiwamu, akankah lebih membela mereka atau islam didadamu?
Karena keluarga itu adalah merupakan bagian dari “dunia” yang telah Allah laknat.
Akankah engkau berhenti atau berdiri lebih kuat lagi untuk membalaskan sakit hati kepada musuh-musuh Allah itu?
Maka, jika engkau istiqamah ketahuilah bahwa kesabaran syaitan itu tidak seberapa nilainya jika dibanding kemahasabaran Allah dalam menunggu taubat kita.
Secara teknis, bagaimana melindungi keluarga dari marabahaya sihir, serangan balik dukun, syaitan dibangsa jin dll?
Tahap 1,
Tentu dengan membersihkan diri dari kesyirikan. Karena Allah meninggalkan atau berlepastangan dari pribadi atau keluarga yang musyrik. Bumihanguskan kesyirikan dari keluarga kita secara bertahap atau tuntaskan seketika.
Setelah keluarga bebas dari syirik, terutama benda syirik secara dzahir kemudian bebaskan mereka dari syirik yang bersifat bathin (didadanya). Ini bukan pekerjaan mudah, dari itulah kita dituntut untuk mendakwahi diri sendiri dan keluarga sebelum terjun. Agar kita punya basic atau pondasi semangat yang luarbiasa ketika mendapat sokongan keluarga.
Namun jika belum berhasil, justru jangan berpangku tangan dan curhat sana-sini seperti ahwat-ahwat curhater itu. Tapi bangkit dan bantu umat dengan apa yang bisa kita lakukan, maka lihatlah disana Allah akan bantu engkau dan keluargamu.
Tahap 2,
Jika sudah bersih dari syirik dzahir dan batin maka tahap selanjutnya adalah mengajak mereka untuk membuktikan iman didadanya dengan ketaatan berupa penunaian ketaatan kepada Allah dengan mengerjakan seluruh kewajiban yang ia mampu.
Setelah ia mampu menunaikan kewajibannya, maka selanjutnya ajak untuk mencintai dan mengaplikasikan sunnah.
Jika itu sudah tergapai dengan sempurna, maka kewajiban engkau sebagai kepala rumah tangga selesai.
Sisanya berikan kepada Allah, apakah ia ridho atau belum untuk menyembuhkan dan menjaga mereka?
Jika belum maka pelajaran selanjutnya adalah ikhlas.
Tahapan 3,
Adalah mengajak keluarga untuk meleburkan dirinya dengan dakwah antum.
Menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya, memberitahukan kembali bahwa akhirat sudah dekat. Menceritakan kepada mereka tentang sungai-sungai di syurga yang batunya dari mutiara. Membicarakan properties syurga yang harus dibangun dan direncanakan dari sekarang.
Sehingga keluarga akan menjadi pasukan kita, Bukan penghalang kita dalam berdakwah.
Inilah sesungguhnya nikmat terbesar, sebuah kebahagiaan atau bahkan syurga sebelum syurga yang sesungguhnya ketika memiliki keluarga yang mendukung kita dalam suka dan duka dalam menggapai syurga yang sesungguhnya.
Intinya, jika keluarga kita diserang syaitan, Allah sedang mendidik kita untuk mendidik mereka. Mendisiplinkan iman mereka.
Wallahu’alam